Kepulauan Meranti – Aliansi Gerakan Anak Meranti (GERAM) menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi kerusakan parah yang terjadi di pesisir Desa Tanah Merang, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti. Ancaman abrasi pantai kini bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan telah menjadi bencana nyata yang mengancam keselamatan jiwa, tempat tinggal, dan masa depan masyarakat setempat.
Berdasarkan pemantauan langsung dan data yang dihimpun tim GERAM di lapangan, kondisi garis pantai di Desa Tanah Merah terus terkikis oleh gelombang laut dari tahun ke tahun. Abrasi terjadi sangat cepat, jarak garis air laut kini semakin mendekati pemukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum.
Puluhan hektar lahan produktif dan tanah ulayat masyarakat telah hilang dimakan laut, bahkan beberapa bangunan rumah dan jalan penghubung desa sudah mengalami kerusakan parah dan terancam runtuh sewaktu-waktu.
Masyarakat Desa Tanah Merah kini hidup dalam kecemasan dan penderitaan setiap hari. Setiap kali air pasang atau angin kencang datang, warga harus waspada dan ketakutan karena ombak langsung menghantam tanggul darurat yang sederhana yang mereka bangun sendiri dengan kemampuan yang sangat terbatas. Warga sudah berulang kali menyampaikan keluhan dan permohonan bantuan, namun penanganan yang komprehensif dan permanen dari pihak pemerintah belum terlihat secara nyata dan memadai.
Sebagai organisasi yang peduli lingkungan dan menjadi mitra kritis pemerintah, GERAM menilai bahwa bencana abrasi ini terjadi bukan semata-mata karena faktor alam, melainkan juga karena minimnya upaya perlindungan pantai dan pelestarian ekosistem hutan bakau yang seharusnya menjadi benteng alami pelindung pulau kita.
Jika dibiarkan terus berlanjut, bukan tidak mungkin dalam waktu beberapa tahun ke depan Desa Tanah Merah akan semakin sempit, tenggelam, dan warganya terpaksa harus mengungsi serta kehilangan tanah kelahirannya sendiri.
“ Dalam lima tahun terakhir, puluhan meter daratan Tanah Merah hilang. Beberapa rumah sudah dipindah, jalan desa retak, dan area pemakaman umum mulai tergerus ombak,” ujar Apen Taruna M.Ling., Juru Bicara Aliansi Gerakan Anak Meranti, Senin (1/Juni/2026).
Oleh karena itu, GERAM mendesak dan memohon dengan sangat kepada:
1. Bapak Bupati Kepulauan Meranti beserta jajaran Dinas terkait (Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, dan BPBD) untuk segera meninjau langsung lokasi bencana, melihat penderitaan rakyat, dan memahami tingkat kerusakan yang ada.
2. Mengalokasikan anggaran khusus dan segera untuk pembangunan bangunan pelindung pantai (tanggul tembok/pemecah gelombang) yang kokoh dan permanen, serta melakukan penanaman kembali hutan mangrove di sepanjang pesisir yang rusak.
3. Menyusun rencana penanganan jangka panjang agar ancaman abrasi ini tidak menyebar ke desa-desa lain di Kecamatan Rangsang Pesisir dan wilayah Meranti lainnya.
4. Memberikan perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi warga yang lahannya sudah hilang dan rumahnya berada di zona merah rawan longsor.
Kami mengingatkan bahwa tugas utama pemerintah adalah melindungi segenap tumpah darah dan memberikan rasa aman serta kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Jangan menunggu sampai korban jatuh atau desa hilang dari peta baru pemerintah bertindak.
GERAM siap mendukung, mengawal, dan bekerja sama dengan pemerintah demi penyelesaian masalah ini, namun kami tegaskan: Masyarakat Tanah Merang tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aksi nyata dibutuhkan SEKARANG juga!














