Menu

Mode Gelap
Dokumen Investasi PT Energi SPRH Viral di Media Sosial, Perusahaan Beri Tanggapan Direktur PT Energi SPRH Resmi Laporkan PT Miderpa ke Polda Riau Terkait Investasi Rp6,3 Miliar Terima Mandat, Persatuan Hijau Riau Rokan Hilir (PeHR-Rohil) Siap Mensukseskan Green policing dan mendukung Kapolda Riau Memberantas Narkoba Di Rokan Hilir Polres Kepulauan Meranti Gagalkan Peredaran 27 Kg Sabu Jaringan Internasional, Dua Kurir Ditangkap di Perairan Selat Akar PB HMI MPO KELUARKAN SK MUSDA ULANG, MOHD ILHAM : PRESEDEN BURUK SEPANJANG SEJARAH PENGURUS PB HMI MPO Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram

Rokan Hilir | Riau

Pemerintah Riau Tuli Dan Buta! Laut Rohil Diperkosa Illegal Fishing, Rakyat Menjerit Tanpa Perlindungan!!!

badge-check


					Pemerintah Riau Tuli Dan Buta! Laut Rohil Diperkosa Illegal Fishing, Rakyat Menjerit Tanpa Perlindungan!!! Perbesar

METROPOS.CO | ROKAN HILIR PANIPAHAN – Tokoh muda Kabupaten Rokan Hilir, Wais Al Qurni meluapkan kemarahan keras terhadap Pemerintah Provinsi Riau yang dinilai gagal total menjaga dan melindungi perairan daerahnya sendiri. Laut Rohil yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat kini seperti dibiarkan tanpa penjagaan, tanpa kontrol, dan tanpa kepedulian.

Ketiadaan anggaran patroli dari Pemerintah Provinsi Riau menjadi bukti nyata lemahnya komitmen dalam menjaga kedaulatan perairan. Kondisi ini membuka ruang bebas bagi praktik illegal fishing yang semakin hari semakin merajalela, khususnya di wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas.

Ironisnya, ketika para pelaku illegal fishing leluasa mengeruk hasil laut, masyarakat lokal justru semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Nelayan tradisional kehilangan hasil tangkapan, kehilangan pendapatan, bahkan kehilangan harapan.

“Ini bukan lagi soal kelalaian, ini sudah masuk kategori pembiaran yang menyakitkan. Laut Rohil seperti diserahkan begitu saja kepada para pelaku perampokan sumber daya,” tegas tokoh muda Rohil.

Padahal, Kecamatan Pasir Limau Kapas dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi perikanan yang sangat besar dan strategis, bahkan disebut-sebut pernah menjadi salah satu penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Norwegia. Potensi ini seharusnya menjadi kekuatan ekonomi daerah, bukan justru dibiarkan hancur oleh praktik ilegal.

Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 90 persen masyarakat di Panipahan menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Artinya, kerusakan dan pembiaran di sektor perairan bukan hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

Kekecewaan masyarakat kini memuncak. Mereka merasa diabaikan, ditinggalkan, dan tidak dianggap oleh pemerintah provinsi. Jeritan nelayan seolah tidak pernah sampai ke telinga para pengambil kebijakan di Riau.

“Jika pemerintah terus diam, maka jangan salahkan jika masyarakat menilai negara telah gagal hadir melindungi rakyatnya sendiri. Laut kami dijarah, nelayan kami menjerit, dan pemerintah justru memilih bungkam,” pungkasnya dengan nada keras.

Masyarakat Rohil mendesak Pemerintah Provinsi Riau untuk segera mengambil langkah nyata: menganggarkan patroli laut, memperketat pengawasan, dan menindak tegas pelaku illegal fishing. Jika tidak, maka kerusakan yang terjadi hari ini akan menjadi kehancuran permanen bagi masa depan perikanan Rohil. Pungkasnya (MH/IDRUS)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dokumen Investasi PT Energi SPRH Viral di Media Sosial, Perusahaan Beri Tanggapan

28 April 2026 - 19:14 WIB

Direktur PT Energi SPRH Resmi Laporkan PT Miderpa ke Polda Riau Terkait Investasi Rp6,3 Miliar

28 April 2026 - 15:03 WIB

Terima Mandat, Persatuan Hijau Riau Rokan Hilir (PeHR-Rohil) Siap Mensukseskan Green policing dan mendukung Kapolda Riau Memberantas Narkoba Di Rokan Hilir

28 April 2026 - 09:39 WIB

Kapolres Rohil Bersama Wakil Bupati Hadiri Dan Lepas Keberangkatan Calon Jamaah Haji Panipahan

25 April 2026 - 05:08 WIB

Aksi HMI dan GPM Rohil Mandek, Ultimatum 3×24 Jam Tanpa Kejelasan dari Kapolres

21 April 2026 - 07:48 WIB

Trending di Hot News