Metropos.co, – Selatpanjang — Pemadaman listrik yang terus berulang di Kabupaten Kepulauan Meranti kembali memantik keluhan masyarakat. Selain menghambat aktivitas sehari-hari, kondisi ini disebut memberikan pukulan berat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama sektor kuliner seperti kedai kopi, rumah makan, hingga coffeeshop yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Banyak pelaku UMKM mengaku mengalami kerugian karena aktivitas usaha terhenti saat listrik padam, terlebih pada malam hari yang merupakan puncak keramaian pengunjung. Pemadaman mendadak juga dikhawatirkan merusak peralatan elektronik bernilai tinggi seperti kulkas, mesin pendingin, dan peralatan dapur lainnya.
Bendahara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kepulauan Meranti, Fitriadi Mirtha, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, pemadaman listrik hampir setiap hari telah menimbulkan keresahan di kalangan pengusaha muda dan pelaku UMKM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Banyak pelaku usaha, terutama di sektor kuliner, mengalami penurunan omzet karena pelanggan enggan datang ke tempat yang gelap dan tidak ada listrik. Pemadaman berulang ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha mereka,” ujar Fitriadi, Jumat (24/10/2025).
Ia menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah, sehingga harus mendapatkan perhatian serius dari PLN dan pemerintah daerah.
“Kami berharap ada langkah konkret dari PLN untuk menuntaskan persoalan ini. Jangan sampai pelaku usaha kecil terus menanggung kerugian akibat layanan listrik yang tidak stabil. Pemerintah daerah juga perlu turun tangan memastikan persoalan ini ditangani dengan cepat,” tegasnya.
Menurut Fitriadi, keandalan pasokan listrik menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah kepulauan seperti Meranti. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap kinerja PLN akan terus menurun apabila permasalahan ini tidak segera direspons.
“Jika kondisi ini tidak kunjung dibenahi, banyak pelaku usaha yang akan kesulitan bertahan. Padahal UMKM adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kepulauan Meranti,” pungkasnya.(TLS)














